Visi Sawit 2020 yang disepakati pada 2007 dengan target produksi Indonesia setara 40 juta ton minyak sawit mentah (Crude Palm Oil-CPO) dan bahan bakar nabati asal sawit mencapai 10% dari total permintaan minyak sawit, sudah dianggap tercapai. Untuk itu, dibutuhkan panduan visi baru. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit mengusulkan Visi Sawit Indonesia 2045 sebagai upaya pemberian sumbangan terbaik berupa industri sawit yang berkesinambungan, meningkatkan kesejahteraan, dan membawa kebanggaan.

Direktur Utama BPDP Kelapa Sawit Bayu Krisnamurthi berharap, Visi Sawit Indonesia 2045 harus lebih komprehensif dibandingkan Visi 2020. Setidaknya ada dua alasan mengapa disebut Visi 2045. Bayu menjabarkan, umur ekonomis tanaman sawit berkisar 25-30 tahun, tahun ini dan tahuntahun ke depan merupakan periode sawit Indonesia untuk peremajaan. “Pada 2045 adalah satu siklus produksi tanaman sawit apabila ditanam tahuntahun ini,” jelas Bayu pada suatu acara silaturahmi di Jakarta beberapa waktu lalu. Dalam acara yang dihadiri para pemangku kepentingan sawit itu, Bayu mengatakan, 2045 adalah tepat 100 tahun berdirinya Republik Indonesia. Dan sebagai produsen terbesar di dunia, komoditas sawit diharapkan dapat memberikan sumbangan terbaiknya.

Lima Pilar Penopang

Visi 2045 ditopang lima pilar yang saling terkait satu sama lain yakni, produktivitas, keberlanjutan, nilai tambah, kesejahteraan, dan kelembagaan. “Lima pilar ini adalah aspirasi dan langkah-langkah yang telah kita kembangkan bersama yang akan menjadi bintang pemandu perjalanan pengembangan sawit Indonesia ke depan. Dan pilar-pilar visi ini bukan hal baru atau sesuatu yang diciptakan seketika,” ungkapnya. Pertama, visi produktivitas. Dengan prinsip 25-25, yaitu 25 ton Tandan Buah Segar (TBS) dan 25% rendemen. Rata-rata minimal 5 ton CPO per hektar untuk perkebunan rakyat secara nasional. Angka produktivitas tersebut dapat diwujudkan dan dijadikan acuan sehingga pada 2045 produksi sawit Indonesia akan menjadi 60 juta ton CPO. “Angka yang reasonable dan merupakan target realistis dapat tercapai,” tandas Bayu. Kedua, visi keberlanjutan. Tudingan negatif yang terus diarahkan ke sawit wajib dijawab dengan praktik budidaya sawit berkelanjutan bersandar pada prinsip-prinsip pengembangan berkelanjutan.

Secara operasional kesinambungan sawit Indonesia tetap akan berbasis ISPO. ISPO juga didorong untuk mendapatkan pengakuan internasional, dihormati, dan disegani. Jadi, pada 2045, Bayu berharap, Indonesia akan menghasilkan dan menjual 100% sawit yang berkelanjutan. Ketiga, visi nilai tambah. Pada 2045, sawit Indonesia akan menjadi industri multiproduk yang terintegrasi. Sawit tidak lagi hanya memproduksi CPO atau Palm Kernel Oil (PKO), tetapi seluruh produk yang bernilai tambah. Seperti biomassa untuk berbagai keperluan, produk-produk baru (plastik, kertas, kayu), bahkan juga memberi nilai atas peran ekstraksi karbon atau jasa lingkungan lainnya. Keempat, visi kesejahteraan. Pada 2045, sawit Indonesia akan menjaga peran perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta, dan perkebunan besar negara dengan perbandingan berturut-turut sebesar 55%, 40%, dan 5%. “Kesejahteraan semua yang terlibat dapat benar-benar terjaga dengan adil sesuai kontribusi, petani sawit harus benar-benar sejahtera, dan pada 2045 petani sawit harus mendapatkan manfaat optimal dari multiproduk yang dihasilkan kebun, bukan hanya mengandalkan harga CPO,” cetus pakar agribisnis IPB itu.

Kelima, visi kelembagaan. kelengkap an komponen kelembagaan industri sawit nasional mulai dari petani, pengusaha, pemerintah, dan profesional serta asosiasi maupun organisasi terkait harus terus dijaga. “Pada 2045 kelembagaan sawit Indonesia memim pin dan aktif sebagai pilar utama pe ngembangan sawit,” pungkas mantan Wakil Menteri Perdagangan era SBY tersebut.