Selama konferensi, RSPO kembali menegaskan komitmennya dalam memimpin perubahan dengan memastikan tidak ada pihak yang tertinggal da lam proses transformasi. Termasuk petani kecil dan kemudian menyediakan akses ke pasar global untuk mereka. Webber meng utarakan, sebagai upaya untuk mendukung petani kecil, berbagai kegiatan telah dijalankan di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan baru-baru ini di Kolombia dan Ghana. Di seluruh dunia, sebanyak 40% dari total lahan digunakan untuk penanaman kelapa sawit. Tercatat ada lebih dari 3 juta petani kecil yang berkontribusi terhadap 30% dari total produksi minyak sawit global.

Bek-Nielsen menguraikan, lebih dari 50% petani sawit di Indonesia merupakan petani swadaya. Sedangkan di Malaysia 40% dan sebanyak 80% di Thailand. Untuk itu, perlu adanya penyeder hanaan persyaratan prosedur untuk ser tifikasi RSPO bagi para petani kecil. Narno Sayoto Iron tiko, petani sawit asal Riau yang tergabung dalam Asosiasi Amanah, mengakui, sertifikasi memberi dampak positif terhadap produk yang me reka hasilkan. Tidak hanya dari perolehan harga yang bagus, mereka juga mendapatkan keuntungan dari segi lingkungan dan sosial. Selain itu, Narno mengungkapkan, Asosiasi Amanah juga mendapat ilmu yang sangat berharga. Dalam tiap pertemuan, selalu membahas permasalahan yang ada di kebun. Cara berkebun yang benar, baik dari perawatan maupun penggunaan bahan kimia terbatas. “Dari segi harga terdapat perbedaan, perusahaan mitra tentunya memberikan harga lebih karena kami punya pro duk grading yang bagus.

Produksi kami dari 2015 ke 2016 berkisar 24,5 ton/ha/tahun, ke depan harapannya naik karena kami akan ter us improve. Di sana (Asosiasi Amanah) dijadikan tempat studi banding oleh petani wilayah lain yang ingin memperoleh sertifikat,” beber Grup Mana ger Asosiasi Amanah. Asosiasi petani kecil in dependen asal Ka bupaten Pelalawan, Provinsi Riau, Amanah, merupakan asosiasi yang mendapatkan sertifikasi RSPO pertama kali di Indonesio, dan ke dua di level global. Sertifikasi mereka peroleh pada 2013. Bek-Nielsen secara khusus menyebut petani kecil memegang peranan yang signifikan. “Kita wajib memberi apresiasi dan menghargai petani kecil dengan tidak meninggalkannya di perjalanan (keberlanjutan) ini. Keyakinan kami adalah pembangunan berke lanjutan harus berjalan beriringan.

Kehidupan petani harus jadi lebih baik dan industri sawit harus memiliki produk CPO yang bertanggung jawab,” jelasnya. Webber menimpali, petani kecil berhubungan langsung dengan sumber daya alam sehingga mereka perlu memahami manfaat dari sertifikasi. Seperti akses terhadap permintaan internasional untuk kelapa sawit berkelanjutan dan manfaat jangka panjang lainnya semisal meningkatkan dan efisiensi produksi maupun efektivitas biaya dalam pengelolaan.