Sugeng memang tidak asing dengan industri kuliner bebek. Sebelumnya, ia pernah mengurusi proses pengolahan bebek dari A sampai Z di sebuah restoran. Sewaktu bekerja di restoran, pria bernama lengkap Sugeng Rasdianto itu sering melihat pelanggan yang memilih-milih bagian bebek. Bukan rahasia lagi daging bebek memang kolesterolnya tinggi. Berawal dari pengamatan terhadap perilaku konsumen tersebut, akhirnya Sugeng terinspirasi untuk buka usaha sendiri. “Saya berinovasi untuk membuat produk turunan. Akhirnya, ketemulah formulasi bebek low cholesterol,” kata Sugeng saat ditemui AGRINA di kedainya, Depok (17/5). Ia menamai kedainya “Bebek Dewi” dengan slogan “Enak Rasanya & Sehat”. Menurut dia, enak itu berarti rasanya enak untuk dimakan. Dan sehat maksudnya kalangan semua umur dan yang bermasalah kolesterolnya tetap dapat menikmati kuliner bebek.

Rendah Kolesterol

Bagaimana bisa rendah kolesterol? Tentu saja bisa. Rahasianya ada pada pemrosesan awal perebusan atau orang Indonesia biasa mengenalnya dengan istilah “diungkep”. Pada umumnya, Sugeng membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 5 jam untuk memprosesnya. “Mau jumlah banyak atau sedikit, rentang waktu pemrosesannya sama saja,” terang ayah dua anak itu. Prosesnya, dimulai dari pencucian hingga bersih. Kemudian didiamkan hingga agak kering dan dicabuti bulu-bulu halusnya yang masih tersisa. Setelah itu direndam, dicuci, dan direbus dengan air berbumbu dalam waktu 30 – 45 menit. Rebus dengan suhu 100°C atau air yang mendidih. Lalu tiriskan daging bebek hingga dingin, cuci lagi hingga bersih. Menurut Sugeng, bagian yang mengandung banyak kolesterol adalah kulit. Jadi, dengan proses pengolahan tersebut, kolesterol akan meluruh hingga kadar yang tersisa hanya sedikit. Para pecinta kuliner bebek pun tidak perlu lagi membuang kulit bebek karena takut kadar kolesterol yang tinggi. “Semua bagian bisa dimakan, termasuk kulitnya,” tandas lelaki yang berdomilisi di Depok, Jawa Barat, itu.

Pelanggan Bebek Dewi pun memberikan komentar yang positif. Sugeng mengklaim, 95% pelanggannya mengatakan bebek dagangannya rendah kolesterol. Bahkan, lanjut dia, ada seorang lelaki yang beristrikan dokter menjadi pelanggan setianya. “Dia suka makan disini. Nah kalau pulang selalu membawa Bebek Dewi untuk istrinya. Istrinya juga bilang itu rendah kolesterol,” ceritanya. Ia mengakui, komentar itu baru dari mulut ke mulut. Kedepan, Sugeng akan mengujikan bebeknya ke lembaga sertifikasi untuk mendapatkan hasil yang lebih valid. Jadi, Bebek Dewi rendah kolesterol bukan hanya omong-omong saja, tapi ada bukti otentik beserta datanya.

Prospek Penjualan

Terkait bahan baku, Sugeng mula-mula menggunakan bebek lokal. Sekarang ia memilih bebek peking dengan alasan daging bebek peking lebih tebal daripada bebek lokal. Pelanggan pun lebih suka mengonsumsi bebek peking. Soal harga, Sebagian orang ngeri makan bebek karena kandungan kolesterolnya tinggi. Tapi sekarang ada bebek olahan yang rendah kolesterol. SUGENG RUSDIANTO dan istri di cabang pertama Bebek Dewi Foto-foto: Galuh Ilmia Cahyaningtyas AGRINA LO 277.qxp_Layout 1 7/13/17 9:56 PM Page 46 277 – Juli 2017 Agrina 47 lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta ini tidak berani menaikkannya. “Kalau kemahalan takut pelanggan lari,” cetusnya. Rata-rata dalam sehari kedai take awaynya menjual sekitar 7 ekor bebek. Satu ekor dipotong menjadi enam bagian. Bobot bebek yang digunakan berkisar 1,2 atau 1,25 kg/ekor, maksimal 1,5 kg. Bebek yang terlalu besar menyebabkan pengolahan tidak maksimal.

Disamping berjualan reguler, Sugeng pun menerima pesanan partai besar. Terkadang, pria ramah senyum ini mendapat pesanan katering atau acara lainnya. Jumlahnya 10-12 ekor. Ia membandrol bebeknya per porsi antara Rp22 ribu – Rp25 ribu dengan perlakuan dibakar, goreng, ataupun penyet. Untuk menggenjot penjualan, ia bermitra dengan salah satu penyedia layanan online yang memungkinkan pelanggan bisa memesan makanan dimana pun mereka berada. Responnya positif, Sugeng sudah beberapa kali melayani pesanan via aplikasi online tersebut.